Foto : Kumparan

MAENBALBANDUNG.COM – Jagat media sosial sempat dihebohkan dengan isu aktivitas transfer Persib Bandung pada paruh kedua Super League 2025/26 yang dituduh menyalahi etik yang sudah disepakati dalam pertemuan para owner klub.

Peneliti Hukum Olahraga sekaligus Bobotoh, Eko Noer Kristiyanto atau yang akrab disapa ‘Eko Maung’ Menanggapi hal itu, menurutnya hal tersebut terasa aneh dan banyak yang tak bisa dipertanggung jawabkan.

“Banyak yang aneh dan menurut saya tidak bisa dipertanggung jawabkan,” ujar Eko dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya.

Isu tersebut mengatakan bahwa Persib Bandung mendaftarkan pemainnya pada tanggal 4 Februari 2026 dituduhkan telah melanggar kode etik dengan dasar kesepakatan dari para owner klub, padahal bursa transfer sesuai regulasi FIFA sendiri berakhir pada 6 Februari 2026 pukul 23:59 WIB.

“Pertama tentang istilah melanggar kode etik, kode etik ini mereka artikan kesepakatan para owner klub. Jelas bukan, itu hanya kesepakatan biasa,” ucap Eko.

Eko juga menerangkan bahwa tafsir dari kode etik biasanya identik dengan aturan yang mengikat suatu komunitas atau profesi tertentu, seperti halnya profesi Advokat, Dokter dan Peneliti.

“Yang disebut dengan kode etik adalah aturan yang mengikat komunitas tertentu biasanya terkait profesi, misalkan Advokat, Dokter dan Peneliti itu punya kode etik. Itu saja mereka sudah salah menafsirkan definisinya,” papar Eko.

Kemudian Eko juga mengomentari tentang komposisi pemegang saham PT. Persib Bandung Bermartabat yang disebutkan dalam isu tersebut, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir masuk sebagai salah satu pemegang saham.

Menurut Eko, dirinya mempunyai dokumen terkini terkait komposisi kepemilikan saham Persib, namun tak membuka siapa para pemegang saham tersebut kini. Kendati demikian Eko membantah, Erick Thohir bukan lagi sebagai pemegang saham di Persib.

“Lalu terkait komposisi pemegang saham, tidak seperti itu yang sekarang. itu mungkin jaman kapan,” papar Eko.

Kemudian Eko mengomentari soal kesepakatan owner klub untuk memajukan deadline transfer pemain, menurutnya hal tersebut terasa jangggal dan belum pernah terjadi. Adapun jika terjalin sebuah kesepakatan bukan memajukan, namun memundurkan waktu transfer, itu pun dengan faktor penyebabnya.

“Berikutnya yang menurut saya terasa aneh tentang kesepakatan para owner klub untuk memajukan deadline (transfer). Sepanjang pengalaman saya biasanya kesepakatan itu bukan dimajukan, tapi mungkin diundur misal faktor kondisi perekonomian global, bursa transfer Eropa, agenda FIFA dan lain-lain jadi harus menyesuaikan,” jelas Eko.

Eko pun dalam akhir video menyerukan kepada bobotoh untuk bersikap tenang, karena menurutnya semua tuduhan tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan. “Jadi intinya (tuduhan itu) tidak bisa dipertanggung jawabkan,” pungkas Eko. ****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *