Siap, perbaikan langsung dilakukan. Penulisan nama klub diubah menjadi Persib agar lebih rapi dan konsisten dengan gaya penulisan media modern.
Berikut draf final yang sudah disesuaikan untuk maenbalbandung.com:
Lama Menepi dan Sempat Dipinjamkan, Dedi Kusnandar Beri Jiwa Profesionalisme di Laga Klasik Persib
MAENBALBANDUNG.COM – Sebuah cerita kebangkitan tersaji dalam lawatan teranyar Persib Bandung ke Samarinda. Setelah sekian lama menghilang dari susunan pemain utama, bahkan sempat dilepas dengan status pinjaman ke Bhayangkara FC, gelandang tangguh Dedi Kusnandar akhirnya kembali menandai kehadirannya di lapangan hijau dengan seragam Pangeran Biru.
Momen emosional bagi pemilik nomor punggung 11 ini terjadi dalam laga mahapenting pekan ke-32 Super League 2025/26. Skenarionya pun tak main-main: Dado—sapaan akrabnya—kembali merumput dalam laga sarat gengsi bertajuk El Clasico Indonesia melawan Persija Jakarta di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu 10 Mei 2026.
Dalam duel sengit yang berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk keunggulan Persib tersebut, Dado masuk dari bangku cadangan. Pelatih Bojan Hodak memasukkan tenaganya pada menit ke-80, menyusul cedera yang menimpa Layvin Kurzawa sehingga tidak bisa melanjutkan sisa laga. Masuk di sepuluh menit akhir laga krusial tentu bukan tugas mudah, namun Dado berhasil mengawal lini tengah dengan kematangan bermainnya.
Ditemui usai sesi latihan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Rabu 13 Mei 2026, Dado tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Bisa kembali dipercaya tampil, apalagi dalam laga penuh tekanan melawan rival abadi, menjadi kebanggaan tersendiri baginya yang siap bersaing secara sehat di kedalaman skuad Maung Bandung.
“Ya, pastinya senang. Tapi, saya tahu datang ke sini ingin membantu tim. Jadi, kapanpun dan di manapun disuruh main, saya siap. Apalagi, kemarin pertandingan lawan Persija yang selalu menjadi sorotan. Saya tentu bangga bisa mengalahkan tim besar,” kata Dado.
Menepi cukup lama dari atmosfer kompetisi kasta tertinggi diakui Dado sempat menghadirkan riak-riak ketegangan sebelum peluit pertama berbunyi. Kendati demikian, jam terbang dan mentalitas sebagai pemain profesional membuatnya mampu menjinakkan rasa gugup tersebut menjadi energi positif di lapangan.
“Bohong kalau enggak ada nervous kayak semua pemain-pemain profesional. Apalagi saya mungkin cukup lama enggak main. Tapi lawan siapapun, kapanpun, di manapun saya harus siap. Setelah masuk lapangan, alhamdulillah saya bisa mengontrol diri,” ucapnya mengisahkan ketegangan di laga kembalinya tersebut.
Kendati euforia kemenangan atas Macan Kemayoran masih terasa manis, Dado langsung menebar alarm pengingat bagi rekan-rekan setimnya serta seluruh Bobotoh. Menurutnya, misi mengamankan trofi juara masih membutuhkan perjuangan ekstra keras hingga peluit akhir musim dibunyikan.
“Kita belum aman, belum juara. Jadi saya berharap doa dan dukungan dari Bobotoh semua untuk dua pertandingan final ini,” pungkas Dado. ****

