MAENBALBANDUNG.COM – Sejarah emas resmi ditorehkan dengan tinta biru di Bumi Pasundan! Persib Bandung menasbihkan diri sebagai klub sepak bola pertama di Indonesia yang mampu merengkuh gelar juara kompetisi kasta tertinggi nasional selama tiga musim berturut-turut. Setelah melakukan back-to-back juara pada musim 2023/24 dan 2024/25, Pangeran Biru sukses mempertahankan mahkota takhtanya usai bermain imbang tanpa gol 0-0 melawan Persijap Jepara.
Laga pamungkas penuh drama yang dipimpin oleh wasit asal Korea Selatan, Ko Hyungjin, ini menyedot perhatian jutaan pasang mata di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu, 23 Mei 2026.
Babak Pertama
Kembali didampingi pelatih kepala Bojan Hodak di pinggir lapangan, Persib langsung mengambil inisiatif menyerang sejak peluit pertama berbunyi. Baru memasuki menit ke-4, Thom Haye sudah menebar ancaman lewat sepakan jarak jauhnya yang masih melambung tipis di atas mistar gawang. Semenit berselang, skema tendangan sudut dari kaki Haye kembali melahirkan kemelut, disusul oleh tandukan tajam Berguinho di menit ke-6 yang masih bisa diantisipasi.
Persib terus mengurung pertahanan tamu. Pada menit ke-14, giliran bek asing Federico Barba yang melepaskan sundulan memanfaatkan sepak pojok akurat Thom Haye, namun bola belum menemui sasaran. Berguinho hampir saja memecah kebuntuan di menit ke-20 melalui tendangan roket kaki kirinya dari luar kotak penalti, tetapi dewi fortuna belum memihak karena bola kembali melayang tipis di atas gawang Persijap.
Selepas menit 20, Persijap mulai bisa lepas dari tekanan. Laskar Kalinyamat sempat mengancam lewat sundulan Dicky Kurniawan, beruntung bola melambung di atas mistar Teja Paku Alam. Memasuki menit ke-33, Persib mendapat peluang emas lewat skema serangan cepat, sayang sontekan Adam Alis menyamping tipis di sisi kanan gawang. Dua menit kemudian, tendangan keras kaki kanan Adam Alis lagi-lagi mampu dimentahkan oleh bek Persijap, Nurdiansyah. Hingga turun minum, skor kaca mata tetap bertahan.
Babak Kedua: Perubahan Taktik, Drama Cedera, dan Ledakan Euforia Juara
Memasuki paruh kedua, Bojan Hodak langsung melakukan perubahan taktis demi menambah kreativitas serangan dengan menarik keluar Kakang Rudianto dan memasukkan sang maestro lini tengah, Luciano “Lucho” Guaycochea. Perubahan ini membuat posisi lini belakang digeser, sementara Lucho bertugas mengatur ritme.
Persib langsung menggebrak lewat akselerasi cepat Berguinho di sisi sayap. Namun, Persijap juga tak tinggal diam dan sempat membahayakan gawang Teja pada menit ke-50. Di menit ke-53, Thom Haye melepaskan eksekusi tendangan bebas terukur usai Lucho dilanggar keras, namun kiper Persijap, Muhammad Nurdiansyah, tampil gemilang untuk menyelamatkan gawangnya. Semenit berselang, refleks cepat Nurdiansyah kembali menggagalkan tendangan jarak dekat yang dilepaskan Andre Jung.
Menit ke-67, demi menyegarkan daya gedor, Coach Bojan memasukkan dua tenaga baru, Ramon Tanque dan Uilliam Barros, menggantikan Beckham Putra dan Andre Jung. Masuknya dua pemain ini langsung memberikan dampak. Tandukan tajam Barros sempat mengancam, disusul sepakan Patricio Matricardi yang masih melambung. Barros kembali menebar teror di menit ke-73, namun sundulannya masih menyamping tipis.
Petaka sempat menghampiri Persib pada menit ke-78 ketika penyerang sayap andalan mereka, Berguinho, mengalami cedera serius. Pemain asal Brasil tersebut tergeletak kesakitan dan terpaksa ditarik keluar untuk digantikan oleh Julio Cesar. Menjelang akhir laga, tepatnya menit ke-90, Saddil Ramdani dimasukkan menggantikan Eliano Reijnders untuk menyegarkan sisi sayap.
Tambahan waktu enam menit di masa injury time terasa bagaikan selamanya bagi puluhan ribu Bobotoh yang berdebar di tribun. Persib terus berjuang menggempur, namun hingga peluit panjang ditiup oleh wasit Ko Hyungjin, skor imbang 0-0 tidak berubah.
Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, Stadion GBLA langsung meledak dalam gemuruh euforia. Seluruh pemain, staf pelatih, dan puluhan ribu Bobotoh berjingkrak bersama, menumpahkan air mata kebahagiaan merayakan kepastian gelar juara.
Bintang Lima dan Sejarah Trofi Kesepuluh Persib
Tambahan satu poin ini sudah lebih dari cukup bagi Persib untuk mengunci takhta puncak klasemen akhir Super League 2025/26 dengan koleksi 79 poin. Walaupun di pertandingan lain Borneo FC berhasil memetik kemenangan atas Malut United dan mengumpulkan poin yang sama, Persib berhak mengangkat trofi juara karena unggul secara catatan head-to-head atas Pesut Etam.
Keberhasilan luar biasa ini sekaligus melengkapi torehan “Panca Takhta” atau simbol Bintang Kelima di atas logo Persib sejak era Liga Indonesia bergulir. Sebelum mencatatkan three-peat legendaris (2023/24, 2024/25, dan 2025/26), Maung Bandung telah lebih dulu menjuarai Liga Indonesia edisi perdana 1994/95 dan Indonesia Super League (ISL) 2014.
Jika dihitung secara total sepanjang sejarah sepak bola tanah air, ini merupakan trofi kasta tertinggi kesepuluh yang berhasil dibawa pulang ke Kota Kembang. Di era amatir sebelumnya, Persib tercatat pernah merajai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI pada tahun 1937 dan 1959/61, serta merajai Kompetisi Perserikatan pada tahun 1986, 1989/90, dan 1993/94.*****

