MAENBALBANDUNG.COM – Majemen Persib Bandung akhirnya buka suara terkait sengketa kontrak mantan bek asing mereka, Daisuke Sato. Klub kebanggaan Jawa Barat ini memutuskan membawa kasus terminasi kontrak pemain asal Filipina tersebut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Dunia atau Court of Arbitration for Sport (CAS).
Langkah hukum ini diambil bukan untuk menghindari kewajiban. Sebaliknya, manajemen ingin memastikan nilai kompensasi yang dibayarkan sudah sesuai dengan regulasi resmi FIFA.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Adhitia Putra Herawan, memberikan penjelasan mendalam mengenai duduk perkara ini. Menurutnya, aturan FIFA mengatur mekanisme perhitungan kompensasi yang fleksibel jika pemain yang diputus kontraknya sudah menemukan klub baru.
Salah satu poin penting dalam aturan tersebut adalah melihat pendapatan sang pemain di pelabuhan barunya. Jika gaji di klub baru lebih tinggi atau setara, maka kewajiban kompensasi dari klub lama otomatis bisa berkurang atau bahkan dianggap selesai.
“Maksudnya gini, di peraturan FIFA itu ketika seseorang pemain keluar dari sebuah klub, di-terminate sisa kontraknya dua tahun, kemudian setelah di-terminate dia kerja di perusahaan lain, ketika gaji di klub lainnya lebih besar dibanding gaji dia di Persib, itu udah selesai case-nya,” ujar Adhitia.
Kecurigaan manajemen muncul saat menerima data mengenai nilai kontrak Daisuke Sato di klub barunya setelah meninggalkan Bandung. Angka yang dilaporkan dinilai terlalu kecil dan tidak masuk akal untuk pemain sekelas Sato.
Oleh karena itu, Persib memilih mengajukan banding ke CAS agar dilakukan penelusuran dokumen secara lebih rinci dan transparan. Manajemen tidak ingin membayar nominal yang keliru akibat data yang tidak akurat.
“Karena kita itu dapat info Daisuke Sato itu di klub barunya gajinya itu cuma sekian (lebih kecil). Yang mana masa pemain bola gajinya segitu? Makanya kita banding ke FIFA. Kayaknya enggak mungkin gaji dia segitu. Either di Filipina gajinya kecil atau kita memilih pemain yang salah, berarti kita bayarnya kemahalan,” jelas Adhitia.
Setelah proses investigasi yang memakan waktu berbulan-bulan, CAS akhirnya mengeluarkan keputusan resmi. Lembaga arbitrase tersebut memeriksa seluruh komponen kontrak mulai dari gaji hingga uang pesangon Daisuke Sato.
Hasilnya, Persib Bandung berhasil memenangkan pengurangan nilai kewajiban bayar. Angka penalti yang harus dikeluarkan manajemen menyusut cukup signifikan jika dibandingkan dengan putusan awal dari FIFA.
“Akhirnya baru keluarlah di dua bulan yang lalu, ternyata ya udah kita tuh dapat pengurangan. Seingat saya tuh sebelumnya Rp3,03 miliar, nah setelah ke CAS itu turun jadi Rp2,7 miliar,” pungkas Adhitia.
Melalui langkah taktis ini, manajemen Persib membuktikan bahwa mereka kini semakin profesional dan melek hukum dalam mengelola administrasi serta finansial klub di era sepak bola modern. *****
