MAENBAL BANDUNG – Mantan pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, akhirnya buka suara mengenai sengketa pembayaran yang sempat menyeret Maung Bandung ke FIFA Registration Ban. Robert mengungkapkan kronologi persoalan tersebut, termasuk proses negosiasi yang sempat dilakukan bersama manajemen Persib sebelum perkara berlanjut ke FIFA.
Robert menjelaskan bahwa dirinya pertama kali menandatangani kontrak dengan Persib pada 2021 dengan masa kerja hingga Mei 2025. Ia juga meluruskan status kepergiannya dari klub. Menurutnya, dirinya tidak diberhentikan oleh Persib, melainkan memilih mengundurkan diri dari posisi pelatih kepala.
Meski demikian, persoalan mengenai pembayaran yang menjadi haknya belum sepenuhnya terselesaikan. Robert mengaku pada awalnya tidak memiliki keinginan membawa masalah tersebut ke ruang publik maupun menciptakan persoalan baru bagi Persib.
Namun, munculnya sejumlah komentar yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta membuat Robert akhirnya memutuskan memberikan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Tapi baru-baru ini saya telah melihat dan mendengar komentar-komentar dari orang-orang yang jelas tidak tahu ceritanya, dan mereka mulai menyalahkan keluarga saya serta diri saya sendiri. Dan sejujurnya, itu tidak baik dan tidak adil juga. Jadi, itulah alasan mengapa saya akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Robert.
Persoalan tersebut kembali dibahas setelah terjadi pergantian manajemen di tubuh Persib. Robert mengaku berusaha mencari jalan keluar melalui komunikasi langsung agar kewajiban klub dapat diselesaikan tanpa harus menempuh proses hukum.
Upaya tersebut berlanjut pada Januari 2025 ketika Robert bertemu langsung dengan Adhitia Putra Herawan yang saat itu menjadi bagian dari manajemen baru Persib. Pertemuan tersebut dilakukan untuk mencari kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.
“Pada Januari 2025, saya secara pribadi bertemu dengan Adhitia dari manajemen baru. Kami duduk berhadapan, mencoba menyelesaikan semuanya bersama-sama, sebuah solusi yang seharusnya lebih baik bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.
Dari pertemuan tersebut, Robert menyebut tercapai kesepakatan mengenai skema pembayaran secara bertahap. Pembayaran disepakati berlangsung mulai Maret hingga Desember 2025.
Robert juga mengaku bersedia mengurangi nilai pembayaran yang menjadi haknya dibandingkan nominal dalam kontrak awal. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kompromi sekaligus upaya membantu kondisi Persib.
“Saya setuju untuk mengurangi jumlah awal, dan saya bersedia berkompromi, menerima kurang dari jumlah kontrak asli karena saya juga memahami situasi klub dan benar-benar berusaha membantu Persib,” kata Robert.
Namun, menurut Robert, kesepakatan tersebut pada akhirnya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Pembayaran yang telah disepakati masih belum diselesaikan sehingga persoalan tersebut kembali berlarut.
Setelah upaya penyelesaian secara langsung tidak menemukan titik akhir, Robert kemudian memilih menggunakan jalur resmi melalui FIFA. Proses tersebut kemudian berkembang menjadi perkara yang membuat Persib sempat tercantum dalam daftar FIFA Registration Ban.
Persoalan tersebut akhirnya memasuki babak baru pada Agustus 2026. Persib kembali masuk dalam daftar FIFA Registration Ban pada 10 Agustus sebelum kewajiban kepada Robert diselesaikan oleh klub.
Sehari setelahnya, FIFA melalui surat tertanggal 11 Agustus 2026 menyatakan perkara tersebut telah ditutup setelah menerima konfirmasi bahwa Robert telah menerima pembayaran yang menjadi kewajiban Persib. Larangan registrasi pemain terkait perkara tersebut kemudian dicabut secara permanen.
Dengan penyelesaian tersebut, sengketa pembayaran yang bermula dari hubungan kontraktual pada periode sebelumnya akhirnya berakhir. Robert pun memilih menjelaskan kronologi persoalan tersebut agar publik memahami bahwa proses yang terjadi tidak berlangsung secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian komunikasi dan upaya penyelesaian yang telah berlangsung cukup panjang.*****

